Dunia ini oval
Kita mempelajari air melalui rasa haus,
daratan melalui perjalanan laut,
intensitas dari agitasi,
perdamaian melalui kisah perang,
cinta melalui kematian,
dan burung-burung melalui musim dingin.~Emily Dickinson
Terorisme
Belum lama kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia dikejutkan lagi oleh ledakan bom di Kuningan pada 17 July kemarin. Banyak berita beredar tentang motif apa dibalik pengeboman tersebut. Ada yang menuding bangunnya lagi jaringan Nurdin M.Top, sedangkan pihak intelijen menyatakan bahwa jaringan JI sedang terpecah antara yang tua dan yang muda, yang tua sudah mulai merapat ke arah konsolidasi sedangkan yang muda keukeuh dengan jalan radikalnya. Ada lagi yang bilang bahwa kejadian ini adalah konspirasi besar-besaran, dan Nurdin M.Top menjadi kambing hitamnya. Sebagian penonton dan penyimak kabaret ini (termasuk saya) menghujat habis habisan pelaku pemboman ini (dimana kita semua tidak tahu benar siapa pelakunya, yang jelas bom ini sangat merugikan), di sisi lain ada sebagian orang yang tepuk tangan atas keberhasilan Pak Nurdin karena telah berhasil menuai teror untuk Amerika sebagai balasan kekejaman pasukan mereka di Timur Tengah, gila..! Target ditujukan ke Amerika kenapa bom ini harus meledak di Indonesia ?

Bom Kuningan JW Marriot-Ritz Carlton
Apalagi pihak pendukung bom ini yang saya temukan di forum-forum menurut saya juga belum tahu pasti siapa peledak bom sesungguhnya. Pada akhirnya media massa lah yang menuntun arah pemikiran kita, akan baik bila informasi yang diberikan memang benar, bagaimana kalau ternyata yang kita dapat hanyalah bended-news ?.
Zeitgeist
Setelah mendengar berita bom Kuningan seketika saya ingat waktu kuliah dulu saya pernah menonton film dokumenter yang dirilis di Internet, dulu saya mengunduhnya dari seorang teman di intranet kampus. Film ini berjudul Zeitgeist : The Movie. Kesan yang saya dapat pertama dari film ini adalah sound-soundnya yang gelap, suara narator yang berat, dan penggabungan cuplikan-cuplikan suara dari berbagai sumber sehingga ada pesan-pesan yang berat didalamnya.
Bagian pertama film ini bertemakan agama dimana menurutnya keterkaitan-agama saat ini tidak lebih tidak bukan adalah serangkaian mitos, konsep agama modern seperti Kristen tidak lain adalah versi lain dari agama lain terdahulu. Konsep sama, yang di-Yesuskan berbeda. Sungguh saya tidak tertarik dengan bagian pertama ini, perdebatan tidak akan ada habisnya. Bagian kedua menyampaikan bahwa adanya konspirasi besar di balik tragedi WTC, Al Qaeda hanyalah ilusi. Tragedi ini dibuat agar mengopinikan bahwa teroris – harus diperangi, karena Afganistan dianggap sarang teroris, maka agar mendapat dukungan dari dunia, maka tragedi WTC sengaja dibuat. Pertanyaannya..siapa yang membuat konspirasi ini? Jawabannya ada di bagian tiga dimana Federal Reserve, semacam bank sentral US ialah yang memegang kendali atas nama kestabilan ekonomi Amerika.

Tragedi WTC, konspirasi besar?
Baru saja menonton sekuel dari Zeitgeist : The Movie ini, judulnya Zeitgeist : Addendum..sinopsis cukup lengkap silahkan klik disini
Zeitgeist sendiri berasal dari sebuah ekspresi bahasa jerman yang berarti spirit (Geist) sang waktu (Zeit). Ia menandai iklim intelektual dan kultural sebuah era. Konsep Zeitgeist mengacu pada seorang filsuf Jerman Johann Gottfrien Herder, namun paling erat kaitannya dengan filosofi Hegel tentang sejarah. Pada 1769 Hegel menulis sebuah kritik terhadap karya Genius seculi dari philologist Christian Adolph Klotz dan memperkenalkan kata Zeitgeist ke dalam bahasa jerman sebagai terjemahan dari genius seculi (Latin: genius – “guardian spirit” dan saeculi – “of the century“). Terlebih lagi zeitgeist adalah semacam ruh semangat perubahan dalam suatu era yang mencakup dunia, ras manusia dipandang holistik.
Ada juga yang menganggap film dokumenter ini hanya sebagai isapan jempol belaka : hoax. Namun beberapa informasi disini termasuk konspirasinya make sense dan faktual.
Kedamaian
Saat ini kriminalitas, anarkis, konflik-agama, kemiskinan, gap antara si kaya dan si miskin semakin terlihat jelas. Sebenarnya bila ditelusuri lebih dalam (dalam opini dan pemikiran saya) semuanya bermuara ke satu hal : uang. Pernah mendengar satirnya atas jawaban suatu masalah : “ah pasti uud (ujung ujungnya duit)” ? Atau salah satu contoh teman saya jago matematika karena terhimpit finansial maka dia tidak bisa melanjutkan kuliah dimana biayanya besar, atau teman yang lain yang sangat berjiwa musik tidak bisa mengeluarkan seluruh potensinya hanya untuk bisa bekerja kantoran dan mendapatkan penghasilan yang jelas. Potensi setiap orang seperti terhambat karena hampir semuanya sekarang mempunyai ukuran : uang. Sekarang saya tidak bisa munafik, terjerat dalam social-culture dimana uang menjadi raja. Lebih jauh lagi, sistem moneter membuat orang menjadi self-centered dan individualis, berusaha bertahan hidup dengan uang.
The ultimate question is bisakah kita hidup tanpa uang, bisakah sistem ekonomi moneter yang mengandalkan interest dihilangkan. Sistem Kapitalis, Sosialis, dan teman-temannya masih berkutat dengan uang, sama saja, jalannya yang berbeda.
Jacques Fresco, seorang industrial-social-engineer, penulis, penemu yang sekarang berumur 93 tahun (konon katanya salah satu teman Einstein yang masih hidup) menggagas solusi yang menarik, yaitu Venus Project. Tujuan utama dari projek ini adalah mengganti scarcity-oriented monetary economy yang ada sekarang dengan resource-based economy. Dia menganggap sistem ekonomi yang sekarang ini tidak memperhatikan kelestarian sumber daya alam, karena keuntungan (profit) adalah segalanya. Artinya bahwa bila konsep resource-based economy diterapkan maka uang akan hilang, tidak akan ada lagi profesi ekonomi, militer, dan marketing karena sudah tidak relevan lagi, tergantikan dengan teknologi. Teknologi disini akan mempermudah dalam hal produksi, sumber energi menjadi geotermal, tidal cell, dan lain lain yang tidak lagi bergantung kepada bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui. Seluruh manusia menjadi satu kesatuan, tidak ada lagi politik apalagi politik busuk karena sudah tidak diperlukan. Manusia sebagai masyarakat yang satu bergotong royong mensejahterakan rasnya dengan mengelola sumberdaya alam yang tepat guna kelangsungan hidupnya. Konsep ini menekankan akan teknologi dan otomasi (automation) sehingga manusia dapat hidup dengan berdampingan tidak seperti sekarang yang semakin hilang rasa kemanusiaannya karena mengurusi perut sendiri.

Salah satu rancangan kota di venus project
Sayangnya venus project ini dalam opini saya, justru menganggap agama sebagai salah satu pemecah dan perusak di muka bumi, padahal semua agama mengajarkan saling mengasihi antar umat beragama, karena menurut kitab saya Al Quran, kita diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal. Agama menurut saya lebih merupakan belief, hal yang sangat personal, urusan pribadi dengan Tuhannya. Islam sendiri mengajarkan agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Yang sangat mendasar ialah cocokkah venus project ini diterapkan di muka bumi ini? bagaimana dengan kewajiban zakat saya? bagaimana dengan harta yang sebagian saya akan nafkahkan kepada keluarga, kerabat dekat dan fakir miskin ? bisakah proyek ini mewujudkan dunia yang damai, sejahtera, tidak ada perang ?
ambil yang baik, buang yang buruk..Wallahu’alam
edaaann beurat banged Bay…
tuink tuink tuink..heuheu
great job btw! ;p
iya huhu..ngerasa belom tersampaikan pesannya..bosen juga nulisnya kalo panjang2 secara…
hehe thanks, peace, love, and gaul
well said beb..
resource-based economy?
barter gitu maksudnyah?
euleuh, saia mah setiap mau mikir ke ‘apa jadinya dunia’
selalu berusaha untuk bilang ‘pasti baik2 aja’
asal kita berusaha. indikator terlalu cuek kah?
hehe.. ide tulisannya Bayu bgt. Penyuka konspirasi :p
A Resource-Based Economy is a system in which all goods and services are available without the use of money, credits, barter or any other system of debt or servitude. All resources become the common heritage of all of the inhabitants, not just a select few. The premise upon which this system is based is that the Earth is abundant with plentiful resource; our practice of rationing resources through monetary methods is irrelevant and counter productive to our survival.
lebih lengkapnya : http://www.thevenusproject.com/a-new-social-design/resource-based-economy
Panjang men artikelnya. Jadi intinya apa ni? Socialism?
IMHO, Mungkin saja benar Islam tidak mengajarkan kekerasan, tapi sejarah Islam cukup kelam:
Tak lama sepeninggal Rasulullah SAW, darah2 mulai menetes. Abu Bakar membasmi habis para pemberontak yg tidak mau bayar zakat, Umar bin Khattab melakukan ekspansi hingga Mesopotamia dan sebagian Persia dgn Pedang di tangan kanan dan Al-Quran di tangan kiri sampai akhirnya ditikam mati seorang Majusi, Utsman bin Affan bertentangan dgn banyak sahabat Nabi hingga akhirnya mati ditikam Muslim (munafik?), begitu juga Ali bin Abi Thalib yg berperang dgn istri tercinta Rasulullah SAW, Aisyah hingga akhirnya mati dibunuh juga oleh muslim (munafik?).
Saya sendiri sangat menyadari sekarang ini kalau banyak org tersesat dalam terorisme itu sangat manusiawi, bukankah bahkan para Khalifah yg 4 panutan kita sendiri yg notabene merupakan generasi pertama Islam gagal membangun Islam yg damai. (apalagi kita yg sudah jauh begini).
Dari situlah Zeitgeist movement menyimpulkan agama merupakan penyebab tragedi terbesar di bumi ini.
Saya jujur saja mengatakan bahwa klaim kebenaran mutlak, dikotomi baik buruk dgn hadiah pahala atau dosa, kafir harbi, qishash, semua memberi legitimasi penumpahan darah.
Zeigeist yg berpikiran sgt progresif tentu tak bisa memahami hal-hal semacam ini sebagai hal yg rasional.
Agama adalah apa yg kita yakini benar. Dan org yg tidak meyakini tentu bisa saja menganggapnya bukan sesuatu yg sempurna. (Persis kalau muslim menganggap Injil sekarang tidak suci lagi).
IMHO, itulah beda Mas Bayu dgn Zeitgeist Movement.
Applicable atau nggak, ide ini menawarkan kedamaian. Kita harus terbuka dgn ide-ide spt ini, bukankah begitu?
terimakasih tanggapannya mas..komentarnya sangat bermanfaat bagi saya..mudah2an untuk yang mampir ke blog saya juga
Sebenarnya resource-based economy menurut saya tidak ada bedanya dengan sosialis dimana insentif bekerja adalah untuk memproduksi barang dan bukan untuk mencari profit. Hanya saja di venus project, “pekerja” digantikan dengan robot, sedangkan manusia hanya memprogram saja. Namun, dalam sejarah, seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang akan semakin kehilangan insentif untuk bekerja karena motif profit dihilangkan dari ekonomi, dan ketika sumber daya mulai habis, insentif untuk mencari sumber daya yang lain tidak ada sehingga akan membawa ekonomi ini ke jurang krisis.
oh iya jangan lupa juga kalo di venus project, mereka idealnya menggunakan sumber energi dan bahan bahan yang bisa diperbaharui jadi tidak akan habis selama produksi berjalan lancar, jangan lupa juga bahwa sejarah belum mengenal teknologi yang seperti sekarang ini..apalagi robot2 yang sekarang secara teknologi sudah benar-benar bisa menggantikan manusia. Menurut saya negara sosialis gagal karena didunia ini masih ada rivalnya, kapitalis. Dimana negara sosialis akan kekurangan SDA sehingga membutuhkan negara kapitalis. Venus project ini akan berhasil menurut mereka bila semua sistem ekonomi hilang juga ahli ekonominya :p cakupannya manusia sebagai satu kesatuan, sesama makhluk yang mendiami bumi, dan berkewajiban melestarikannya.
Ingat bahwa teknologi dibuat bukan untuk menghancurkan atau merusak bumi, teknologi yang tepat ialah yang tepat guna dan memudahkan manusia.