Dia bilang akan pulang bersama saya siang nanti dan saya hanya menatapnya saja dengan sedikit memiringkan kepala yang berarti tanda sepakat dengannya. Aku yang bertubuh kecil dengan jaket sporty kebesaran dengan logo “Orlando Magic” di sebelah kiri atas selalu menginginkan rompi militer yang selalu dikenakannya dengan gagah sekali. Badannya kurus, putih, tinggi dengan rambut poni samping kiri mirip bintang laga hongkong selaras dengan saya yang berambut lurus samping mirip comedian dari negeri shanghai.
Sebelum pulang ke rumah kita selalu menghabiskan waktu di stasiun dekat sekolah. Terkadang melakukan perjalanan tanpa tiket dengan kereta ekonomi dengan tujuan tidak jelas. Hampir ritual ketidakjelasan berlanjut setiap hari dengan menaruh sebuah koin seratus rupiah bergambar garuda dan rumah gadang di atas rel. Kepuasan didapat ketika mendapati si koin tergilas kereta api sampai gepeng. Sampai suatu hari datanglah seorang anak yang bertubuh lebih besar meminta uang kepada saya dan dia, dengan ikhlas kami berikan sisa uang ongkos menaiki angkutan umum. Akhirnya kita pulang dengan berjalan kaki, berlari-lari kesana kemari, bersenda gurau tidak menyadari kalau kita baru saja dipalak.
Saya merasa dialah sahabat terbaik, setidaknya kita tidak pernah mengincar murid perempuan yang sama. Nilainya tidak begitu bagus dibandingkan dengan saya, tetapi dia selalu unggul jauh didepan pada pelajaran Bahasa Inggris. Nilainya selalu diatas rata-rata dalam pelajaran ini.
Dengan sepeda kita memutari kota kecil administrative, mengunjungi teman yang lain, menunjukkan nyali kita bahwa sudah berani naik sepeda jauh dari rumah. Hari kelulusan sekolah menjadi hari terakhir bermain dengannya karena saya harus pindah ke luar kota. Belum lama dari kepindahan saya rajin meneleponnya untuk sekedar menanyakan kabarnya, sekolah barunya dan teman-teman yang lain. Semakin lama hingga 10 tahun saya tidak pernah menghubunginya, tapi saya tidak akan lupa dengan petualangan-petualangan sepulang sekolah dulu….
Saya duduk memandangi monitor, memandangi kubikel saya yang semakin penuh sampah. Masih teringat percakapan via facebook malam harinya bahwa dia berada di bali untuk saat ini, tapi saya masih menunggu kabar selanjutnya tentang pertemuan hari ini.
Wajahnya tetap sama, rambutnya berubah ikal, posturnya kurang lebih sama dengan dia yang sepuluh tahun yang lalu, namun terlihat lebih kurus dibandingkan dulu. Dia bersepeda keranjang, memakai kemeja cowboy dan tutup kepala, sedikit pangling melihat saya yang sudah berbeda karena tidak ada lagi poni komedi shanghai.
Dia bercerita tentang dua kuliah sastra perancis dan inggrisnya yang tidak selesai karena masalah finansial, dia bermimpi menjadi penulis, dia berniat merubah pandangan orang tentang sastra, dia mencoba meracuni saya dengan musik indie – Swedish pop, dia ingin mencari pekerjaan di pulau yang sama dengan saya di bali, dia bermodalkan nekat dengan hanya mengantongi ijazah sekolah menengah atas ,namun dia mempunyai hasrat yang besar untuk keluar dari lingkar kemalasan, berharap menjadi cerita untuk anak cucunya kelak, menjadi kabar baik untuk orangtuanya, menjadi panutan adik-adiknya yang masih sekolah.
Ditemani pasir pantai,deburan ombak, dua kaleng kopi, sebungkus rokok dan bulan purnama, saya berkata bahwa hari ini menjadi hari itu ketika kita bercerita tentang mimpi dan cita-cita…
lama tak berkunjung neh saya…
nice story…keep writing(typing, red) bay