All my bags are packed, I’m ready to go
I’m standin’ here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
~”Leaving On A Jet Plane” – Chantal Kreviaczuk
Aku tidak suka bandara, karena disana seringkali kutemukan kesedihan..
Tidak ada sehening malam dimana ketika bintang-bintang bersembunyi, bulan seakan belum pulang dari perantauannya, dan ketika aku menatapinya sedang tidur dan terdiam. Melihat dan mengamatinya mendekap guling dan terpejam dengan kantung mata yang seakan-akan tertulis padanya bahwa aku tidak akan pergi keesokan harinya. Sungguh menusuk hati ketika aku mengusap air mata yang masih tertinggal di bulu matanya. Betapa indah, namun sakit, sekarang dia tidur hanya ditemani temaram lampu karena berkelahi dengan gelapnya malam, sedangkan aku hanya diam tak berani memikirkan esok hari.
Hambar, ketika aku merubah rubah channel televisi yang ketika itu jam dua malam dan tak jelas ujungnya apa yang aku cari hingga tak terasa rokok terakhir pun sudah enggan menemani lagi. Sesekali aku mengecek apakah dia terjaga atau tidak, agar aku bisa berbicara dengannya. Ada sesuatu hal yang aku ingin sampaikan padanya sebelum aku pergi besok. Tapi terlambat, mentari pagi sudah membangunkan dia dan itu berarti aku harus segera bergegas mempersiapkan koper dan pakaianku setidaknya untuk satu tahun.
~Bandara Soekarno-Hatta
Teman terbaikku, keluargaku, termasuk dia yang sudah siap dengan dress bunga-bunga merah cantik, yang aku yakin tidak secantik hatinya sekarang. Bagaimanapun tatapan mereka sekarang seakan-akan menyiratkan bahwa aku akan pergi untuk 100 tahun. Ibuku berkata agar aku tidak meninggalkan sholat dan agar aku selalu rendah hati. Teman terbaikku berharap agar aku sukses disana. Kedua adikku hanya tersenyum dan meminta agar suatu waktu mengajaknya ke tempatku untuk liburan. Sedangkan Ayahku mengingatkanku bahwa dia siap sedia dengan segala kemungkinanku disana. Terakhir, dia dengan manisnya berdiri terpisah, terdiam. Bibirnya mulai mengerut seraya matanya berkaca-kaca. Pun ketika lelehan air matanya mulai membasahi pipinya aku sudah memeluknya. Aku berkata bahwa kepergianku ini tidak akan lama, ia tetap bilang bahwa aku jangan pergi, kata-kata itu semakin aku kehilangan daya untuk membuat bendungan air mataku, air mata itu tidak boleh mengalir sekarang, itu hanya membuat aku terlihat tidak yakin akan keinginanku . Bahuku sudah basah kali ini oleh air matanya, aku melihat ayah dan ibuku menatapku seakan setuju kepadanya agar aku tidak pergi. Kemudian kutatap matanya yang merah, kuusap pundaknya berusaha mengatakan jangan sedih. Kulihat satu persatu orang-orang yang kusayangi, adikku, ibuku, teman-temanku, dan terakhir aku menatap ayahku memegang tasku, sekelebat aku teringat ketika diwaktu senja ayahku berkemas dan berkata ia akan meninggalkan aku dan ibuku. Sedih.
Kupejamkan mataku, kucium keningnya, aku tarik nafas panjang, lelehan air mata itu sudah di ujung mataku dan akhirnya keluar, tetapi tidak ada yang tahu karena mereka sekarang hanya bisa melihat punggungku saja.
Sejak itu aku tidak suka bandara.
huh! si bayu mah ngingetin semua memori aku akan bandara.
T_T
ketika jadi yang mengantar dan yang diantar,
dua2nya sama beratnya…
kaya g bakal balik lg aja…
padahal mah ‘aku pergi…tak kan lama…’ (like ello’s song)
uhuhuhu
aku juga ga suka bandara bay
@agni : hihi maaf ni, bukannya mo ngingetin..tapi nyuruh lo supaya sering balik ke bandung hehehe…
kadang2 gw suka bandara kalo lagi banyak cewek jepangnya hahaha
tersentuh bacanya..
hahaha memang menyakitkan kalo ke bandara itu, terutama pas good bye good bye sebelum check in. tapi di dalam…… senang ngebayangin ke mana2 aja pesawat2 akan pergi. rasanya spt… dalam 1 langkah saja, kita bisa nyampe ke ujung dunia yg blom pernah kita lihat sebelumnya. the possibilities are endless
duh menyentuh bnr sih bay,.. wah klo gw ada di sekitar lo gw bs jadi ikutan menitikan air hujan ehh air mata deh… tp lo kan bs blk klo liburan… asal jgn lupa org2 yg di jakarta aja…
btw cw lo skrg sapa bay..?